hubungi Admin Kongkoh Via email : kongkoh_blogspot@yahoo.com. Terima Kasih!

04 January, 2010

TEORI KONSTRUKTIVISME

TEORI KONSTRUKTIVISME

I. Gambaran Umum Teori Konstruktivisme

Kontrustivistik merupakan suatu teori tentang pengetahuan dan pembelajaran (knowledge and learning); pengetahuan dan pembelajaran menggambarkan dua hal yaitu apakah pengetahuan itu dan bagaimana pengetahuan itu datang? Teori konstruktivistik mementingkan tiga aspek yaitu adaptasi sebagai ganti dari penggambaran yang berasal dari biologi yaitu hubungan antara kehidupan organisme dengan lingkungannya, kedua adalah pemahaman pada lingkungan , dalam model ini lingkungan lingkungan mempunyai makna yang jelas yaitu ketika berbicara pada diri sendiri, maka lingkungan mengacu kepada pengalaman, sedangkan pengalaman apabila perhatian kita pada unsur khusus, maka lingkungan mengacu pada lingkungan sekitar. Aspek ketiga adalah hubungan makna, dimana konstruktivistik lebih berorientasi pada pembentukan makna apabila hal ini dikaitkan dengan pembelajaran adalah bagaimana menstransfer makna kepada peserta didik.

Revolusi konstruktivisme mempunyai akar yang kuat dalam sejarah pendidikan. Tokoh yang paling berpengaruh dalam mengembangkan teori ini adalah Jean Piaget dan Vygotsky. Keduanya menekankan bahwa perubahan kognitif kearah perkembangan terjadi ketika konsep-konsep yang sebelumnya sudah ada mulai bergeser karena adanya informasi baru yang diterima melalui proses ketidak seimbangan (dissequillibrium). Selain itu mereka juga menekankan pentingnya lingkungan sosial dalam belajar dengan menyatakan bahwa integrasi kemampuan dalam belajar kelompok akan dapat meningkatkan pegubahan secara konseptual. (Baharuddin, 2007:117)

Walaupun keduanya merupakan tokoh pada aliran konstruktivisme, namun Piaget dan Vygotsky pada prinsipnya memiliki beberapa perbedaan karakteristik. Piaget menyatakan proses pembelajaran bersifat internal sedangkan Vygotsky menyatakan bersifat external. Menurut Piaget, proses pendewasaan dalam diri menjadi faktor utama yang mempengaruhi proses pembelajaran siswa sedangkan Vygotsky lebih mengutamakan faktor dunia luar. Vygotsky menyatakan pengetahuan dibangun siswa dalam konteks budaya dan atas dasar interaksinya dengan teman sebaya atau faktor eksternal yang lain. Vygotsky menyatakan bahwa konsep tidak bisa dibangun tanpa melakukan suatu interaksi sosial (Howe, 1996 : 42).

II. Pemikiran-Pemikiran Vygotsky

Lev Vygotsky(1893-1934) adalah seorang psikolog Rusia yang sering dipandang sebagai a social (atau a sociocultural) constructivist. Ada banyak kemiripan antara teori piaget dan vygotsky, salah satunya adalah tentang cara belajar yang efektif melalui praktek nyata, anak-anak akan lebih mudah memahami konsep-konsep baru ketika mereka mencoba memecahkan satu masalah dengan objek konkrit, menurut vygotsky perkembangan intelektual anak mencakup bagaimana mengkaitkan bahasa dengan pikiran. Pada awal perkembangan anak antara bahasa dan pikiran tidak ada keterkaitan misalnya seorang bayi yang mengoceh tanpa memikirkan akibat ocehannya dan lain-lain.

Vygotsky menekankan besarnya pengaruh sosial budaya pada perkembangan anak. Artinya peranan lingkungan sosial dimana anak itu berkembang, dan interaksi yang terjadi di dalamnya sangat mendukung pekembangan sosial anak. Selain itu ia juga memperhatikan dua faktor penting dalam perkembangan anak, yaitu pembawaan dan pengasuhan, keduanya saling berinteraksi satu sama lain. Ia membedakan dua fungsi mental yaitu rendah dan tinggi. Fungsi mental rendah yaitu; sensasi, reaksi perhatian, ingatan spontan dan kecerdasan sensori motor. Menurut Vygotsky bahwa kemampuan mental manusia dapat disamakan dengan hewan, dan itu berasal dari faktor bawaan. Fungsi mental rendah mula-mula hanya bergantung pada proses perkembangan. Fungsi mental tinggi adalah pemerolehan pengetahuan melalui belajar dan pengajaran, seperti: persepsi, perhatian, ingatan dan logika berfikir. (Sofia Hartati, 2005: 70)

Terkait dengan fungsi mental tingkat tinggi, secara bertahap seorang anak mulai mengaitkan antara bahasa dengan pikiran . pada usia SD ia akan memakai bahasa dalam proses belajar. Misalnya pengertian tentang ukuran akan bertambah dengan pemakaian kata kecil, lebih kecil, paling kecil, dsb.

Menurut Vygotsky adalah hal yang wajar jika seorang anak usia 5 tahun berbicara sendiri ketika sedang mempelajari sesuatu karena ini akan memvbantunya untuk lebih mudah mengerti, semakin sulit subjek yang sedamng dipelajari anak semakin sering anak-anak berbicara sendiri untuk mengerti apa yang sedang dipelajari bahkan hal ini masih terjadi juga pada orang dewasa ketika sedang mempelajari sesuatu yang rumit walaupun berbicara di dalam hati. Menurut vygotsky penggunaan bahasa bukan sekedar untuk alat berekspresi tapi juga alat Bantu yang efektif dalam proses belajar

Vygotsky juga memberikan ide praktis bagaimana meningkatkan perkembangan intelektual anak sehingga anak dapat berpikir mandiri. Misalnya ketia seorang anak sedang mengerjakan sesuatu yang mampu ia kerjakan sendiri sebaiknya guru maupun orang tua jangan membantunya, namun apabila yang dipelajarinya sulit guru harus memberikan arahan dan mendorong anak untuk berpikir.

Vygotsky memperkenalkan Zona of development (zo-ped). Vygotsky used the term "zo-ped", zona of oroximal development, to describe the place where a child,s spontaneous concepts meet the "syatematicy and logic adult reasoning" yaitu bahwa anak lahir mempunyai rentangn kemampuan persepsi, kemampuan memori yang ditransformasikan dalam konteks social dan pendidikan melalui hokum social, sarana, kebudayaan tertentu menjadi fungsi psycologis kognisi tinggi. Zo-ped yaitu suatu tingkat perkembangan actual yang sifatnya belum jadi, masih berupa potensi. Tingkat perkembangan potensial ditumbuhkan melalui "scaffolding instruction" yaitu pembelajaran yang berjenjang. Scaffolding instruction menganut tiga prinsip yaitu: holistic meaningfull, konteks social yang ekuivalen dengan belajar, dan peluang berubah dan berhubungan.

Konsep Belajar Konstrutivisme Vygotsky

Salah satu konsep dasar pendekatan konstrutivisme dalam belajar menurut Vygtsky adalah adanya interaksi social individu dengan lingkungannya. Menurutnya, belajar adalah sebuah proses yang melibatkan dua elemen penting. Pertama, belajar merupakan proses secara biologis sebagai proses dasar. Kedua, proses secara psikososial sebagai proses yang lebih tinggi dan esensinya berkaitan dengan lingkungan sosial budaya. Sehingga, lebih lanjut ia menyatakan, munculnya prilaku seseorang adalah karena intervening kedua elemen tersebut. (Baharuddin dan Esa Nurwahyuni, 2007:124)

Pada saat seseorang mendapatkan stimulus dari lingkungannya, ia akan menggunakan fisiknya berupa alat indranya untuk menangkap atau menyerap stimulus tersebut, kemudian dengan menggunakan saraf otaknya informasi yang telah diterima tersebut diolah. Keterlibatan alat indra dalam menyerap stimulus dan saraf otak dalam menyerap informasi yang diperoleh merupakan proses secara fisik dan psikologi sebagai elemen dasar dalam belajar.

Pengetahuan yang telah ada sebagai hasil dari proses elemendasar ini akan lebih berkembang ketika mereka berinteraksi dengan lingkungan sosial budaya mereka. Oleh karena iti, ia sangat menekankan pentingnya peran interaksi sosial bagi perkembangan belajar seseorang.

Konstruktivisme Vygotskian memandang bahwa pengetahuan dikonstruksi secara kolaboratif antar individual dan keadaan tersebut dapat disesuaikan oleh setiap individu. Proses dalam kognisi diarahkan melalui adaptasi intelektual dalam konteks sosial budaya. Proses penyesuaian itu equivalen dengan pengkonstruksian pengetahuan secara intra individual yakni melalui proses regulasi diri internal. Dalam hubungan ini, para konstruktivis Vygotskian lebih menekankan pada penerapan teknik saling tukar gagasan antar individual (Sheffer, 1996 : 274 - 275). Dua prinsip penting yang diturunkan dari teori Vygotsky adalah : (1) mengenai fungsi dan pentingnya bahasa dalam komunikasi sosial yang dimulai proses pencanderaan terhadap tanda (sign) sampai kepada tukar menukar informasi dan pengetahuan, (2) zone of proximal development. Guru sebagai mediator memiliki peran mendorong dan menjembatani siswa dalam upayanya membangun pengetahuan, pengertian dan kompetensi (Dixon-Kraus, 1996 : 8).

Sumbangan penting teori Vygotsky adalah penekanan pada hakikat pembelajaran sosiokultural. Inti teori Vygotsky adalah menekankan interaksi antara aspek internal dan eksternal dari pembelajaran dan penekanannya pada lingkungan sosial pembelajaran. Menurut teori Vygotsky, fungsi kognitif manusia berasal dari interaksi sosial masing-masing individu dalam konteks budaya. Vygotsky juga yakin bahwa pembelajaran terjadi saat siswa bekerja menangani tugas-tugas yang belum dipelajari namun tugas-tugas tersebut masih dalam jangkauan kemampuannya atau tugas-tugas itu berada dalam zone of proximal development mereka. Zone of proximal development adalah daerah antar tingkat perkembangan sesungguhnya yang didefinisikan sebagai kemampuan memecahkan masalah secara mandiri dan tingkat perkembangan potensial yang didefinisikan sebagai kemampuan pemecahan masalah di bawah bimbingan orang dewasa atau teman sebaya yang lebih mampu (Shaffer, 1996 : 274 - 275).

Teori Vygotsky yang lain adalah scaffolding. Scaffolding berarti memberikan kepada seorang anak sejumlah besar bantuan selama tahap-tahap awal pembelajaran dan kemudian mengurangi bantuan tersebut dan memberikan kesempatan kepada anak tersebut mengambil alih tanggung jawab yang semakin besar segera setelah mampu mengerjakan sendiri. Bantuan yang diberikan guru dapat berupa petunjuk, peringatan, dorongan, menguraikan masalah ke dalam bentuk lain yang memungkinkan siswa dapat mandiri. Vygotsky mengemukakan tiga kategori pencapaian siswa dalam upayanya memecahkan permasalahan, yaitu (1) siswa mencapai keberhasilan dengan baik, (2) siswa mencapai keberhasilan dengan bantuan, (3) siswa gagal meraih keberhasilan. Scaffolding berarti upaya guru untuk membimbing siswa dalam upayanya mencapai suatu keberhasilan. Dorongan guru sangat dibutuhkan agar pencapaian siswa ke jenjang yang lebih tinggi menjadi optimum (Vygotsky, 1978 :5).

Scaffolding Sebagai Bagian dari Teori Konstruktivisme Modern

scaffolding adalah suatu istilah dalam dunia pendidikan yang merupakan pengembangan teori belajar konstruktivisme modern. Scaffolding pertamakali disebut sebagai istilah dalam dunia pendidikan, khususnya pendidikan anak usia dini oleh Vygotsky (1846). Dalam pendidikan usia dini, scaffolding mengambil peran yang sangat penting dalam proses pembelajaran di setiap aspek menuju pada pencapaian tahap perkembangan anak (child development). Setiap kali seorang anak mencapai tahap perkembangan yang ditandai dengan terpenuhinya indikator dalam aspek tertentu, maka anak membutuhkan scaffolding. Vygotsky (1962) menuliskan bahwa scaffolding merupakan bentuk bantuan yang tepat waktu yang juga harus ditarik tepat waktu ketika interaksi belajar sedang terjadi saat anak-anak mengerjakan puzzle, membangun miniature bangunan, mencocokkan gambar dan tugastugas pelajaran lainnya. Saat interaksi belajar berlangsung, scaffolding kadang dibutuhkan secara bersamaan dan terintegrasi dalam aspek fisik, intelektual, seni dan emosional.

Kebalikan dari scaffolding adalah interferensi. Seringkali langsung muncul keinginan orang dewasa baik guru maupun orang tua untuk dating membantu anak menyelesaikan tugas perkembangannya. Akibatnya, bantuan malah menginterferensi proses pembelajaran anak. Keinginan tersebut sesungguhnya wajar dan natural, karena selain ungkapan kasih sayang, juga merupakan ungkapan kekhawatiran orang dewasa terhadap anak. Namun, dengan porsi yang tepat, tidak akan menjadi interferensi dan tidak akan merebut peran scaffolding yang lebih dibutuhkan anak.

Telah kita ketahui bahwa teori belajar konstruktivisme modern secara umum menyatakan bahwa siswa harus secara pribadi menemukan dan menerapkan informasi yang kompleks kemudian mengecek informasi baru dibandingkan dengan aturan lama dan memperbaiki aturan itu apabila tidak sesuai lagi. Dengan demikian guru tidak dapat hanya semata-mata memberikan pengetahuan kepada siswa, melainkan siswa harus membangun pengetahuan ini di dalam benaknya sendiri. Guru hanya membantu proses ini dengan caracara mengajar yang membuat informasi menjadi sangat bermakna dan sangat relevan bagi siswa; sedemikian hingga siswa mampu menarik kesimpulan untuk menerapkan sendiri ide-ide.

Khusus terhadap pendidikan anak usia dini teori konstruktivisme modern oleh Vygotksy dibagi dalam tiga tahap yaitu:

  1. Tahap Zona Perkembangan Terdekat Zona perkembangan terdekat atau Zone of Proximal Development (ZPD) yaitu suatu ide bahwa anak usia dini belajar konsep paling baik apabila konsep itu berada dalam zona perkembangan terdekat mereka. A range tasks too difficult for the child to do alone but possible with help of adults and more skilled peers (Berk, 2006). The zone of proximal development is the Vygotskian concept that defines development as the space between the child’s level of independent performance and the child’s level of maximally assisted performance (Bodrova &Leong, 1996; Vygotsky, 1978). Artinya, suatu jarak antara keterampilan yang sudah dimiliki oleh anak dengan keterampilan baru yang diperoleh dengan bantuan dari orang dewasa (adult/care giver/parents/teacher) atau orang yang terlebih dahulu menguasai keterampilan tersebut (knowledgeable person/peer/siblings). Zona ini hadir di tengah lingkungan dengan fitur yang sekaya mungkin sehingga memberikan kesempatan melimpah bagi anak untuk membangun konsep dan internalisasi pemahaman dalam dirinya tentang berbagai hal. Artinya, bila lingkungan di sekitar anak mampu menghadirkan sekaya mungkin fitur tentang berbagai hal, maka anak memperoleh rangsangan yang kuat untuk mempelajari suatu konsep bagi pemahamannya dengan cara terbaik.
  2. Tahap Pemagangan Kognitif Pemagangan kognitif atau cognitive apprenticeship adalah suatu istilah untuk proses pembelajaran dimana guru menyediakan dukungan kepada anak usia dini dalam bentuk scaffold hingga anak usia dini berhasil membentuk pemahaman kognitifnya. Pemagangan kognitif atau cognitive apprenticeship juga merupakan suatu budaya belajar dari dan di antara teman sebaya melalui interaksi satu sama lain sehingga membentuk suatu konsep tentang sesuatu pengalaman umum dan kemudian membagikan pengalaman membentuk konsep tersebut di antara teman sebayanya (Collins, Brown, and Newman 1989). Wilson and Cole (1994) mendeskripsikan ciri khas pemagangan kognitif yaitu “ heuristic content, situated learning, modeling, coaching, articulation, reflection, exploration, and order in increasing complexity”.
  3. Scaffolding atau mediated learning Yaitu dukungan tahap demi tahap untuk belajar dan pemecahan masalah sebagai suatu hal yang penting dalam pemikiran konstruktivisme modern. Scaffolding is adjusting the support offered during a teaching session to fit the child’s current level of performance ”. Scaffolding sebagian besar ditemukan dilakukan oleh orang dewasa (adult/care giver/parent/teacher) atau orang yang lebih dahulu tahu (knowledgeable person/siblings/peer) tentang suatu keterampilan yang seharusnya dicapai oleh anak usia dini. (Upi Isabella : 2007)

Daftar Pustaka

Ratna Megawangi, dkk, Pendidikan Yang Patut dan Menyenangkan, (Bogor: Indonesia Heritage Foundation) 2005.

Baharuddin dan Esa Nur Wahyuni, Teori Belajar dan Pembelajaran, (Jogjakarta: Ar-Ruz Media) 2007

Anisa Basleman, Pembelajaran Konstruktivisme (makalah)

Upi Isabela, Scaffolding pada Program Pendidikan Anak Usia Dini, Jurnal Pendidikan Penabur - No.08/Th.VI/Juni 2007

Sofia Hartati, Perkembangan Belajar PAUD, (Jakarta: Depdiknas) 2005

No comments: