02 July, 2015

Bermain (play)

Bermain (Play) 
By. Kongkoh 




Sebuah studi klasik yang dilakukan oleh Mildred Parten (1932) mengenai bermain, Parten menggolongkan tiga bentuk bermain yang dilakukan anak-anak dalam konteks interaksi teman sebaya (Bukatko and W.Daehler. 353-356) yaitu : Solitary play, Parallel play, Cooperative play. Sedangkan di buku (Audrey Curtis. 109) Mildred Parten (1933) menggolongkan bermain menjadi 4 (empat) bentuk, yaitu : Solitary play, Parallel play, Associative play, Cooperative play. Dan yang lebih lengkap ada dibukunya (Jo Ann Brewer. 144), dimana Mildred Parten menyebutkan ada 5 (lima) kategori bermain dan Ia mengurutkannya, yaitu : Solitary play, Onlooker play, Parallel play, Associative play, dan Cooperative play. 
Pertama, Solitary play (bermain sendiri). Seperti namanya main ini dilakukan secara sendirian oleh anak dengan mainanya, ia tidak memperhatikan anak lainya walapun ada anak yang lainya juga bermain. Misalanya seorang anak sedang bermain menumpuk balok sementara yang lainnya sedang bermain Puzzle, dia tidak peduli dengan yang dilakukan anak lain. Kedua Onlooker play (bermain menjadi penonton). Model bermin ini anak bermain individual secara bersamaan anak juga mengamati mereka yang bermain diarea yang sama. Anak juga dapat berbicara dengan teman sebayanya. Ketiga, Paralel play (bermain parallel). bermain ini dilakukan oleh beberapa anak dengan permainnya menggunakan alat mainan yang sama, tapi masing-masing anak bermain secara sendiri-sendiri artinya apa yang dilakukan satu anak tidak ada kaitannya dengan anak yang lainya walaupun sama-sama menggunakan alat permain yang. Lalu yang jadi pertanyaan dimana paralelnya? Untuk menjelaskan ini saya ambil contoh misalnya beberapa anak bermain puzzle, suatu ketika salah satu anak meninggalkan puzzlenya padahal dia belum selesai menyusunnya lalu ada anak lain (yang sama-sama main puzzle) meneruskan menyusun puzzle yang belum selesai tadi. Untuk menyelesaian puzzle miliki temennya tadi dia melakukannya tidak ada perintah yang diberikan anak tersebut (pemiliki puzzlenya yang belum selesai). Keempat, Associative play (Bermain asosiatif). Beberapa anak bermain bersama-sama tapi dilakukan secara bebas. Beberapa anak dapat menentukan untuk bermain “Monster”. Contoh lari sekitar lapangan bermain, dimana ada satu anak mengejar anak lainnya, tapi tidak menggunakan aturan yang pasti, misalnya kalau ada anak yang sudah tidak lari lagi maka bisa dilanjutkan oleh anak lainnya. Kelima, Cooperative play (Bemain kooperatif). Didalam bermin anak-anak berinteraksi satu dengan yang lainnya, mereka bertukar mainan, satu ikut bermain dengan anak yang lain, mereka bisa salaing mengusulkan mengenai permainan selanjutnya yang akan dilakukannya.
 Selain ketiga bentuk permainan tersebut diatas, ada bentuk bermain yang menarik yang dapat kita lihat pada anak usia prasekolah yaitu social pretend play, ada juga yang menyebutnya sociodramatic play (bermain sosiodrama). bentuk bermain seperti ini anak-anak “berkhayal/berimajinasi” untuk merubah fungsi dari sebuah obyek, berimajinasi, peran berpura-pura mereka melakukan kerjasama satu dengan yang lainnya sesama teman sebaya (Rubin, Fein, Vandenberg, 1983). Bentuk permainan ini misalnya bermain memerankan“ menjadi ibu” biasanya anak memerankan seorang ibu dan untuk anaknya bisanya diambil dari sebuah boneka mainan ”. ada juga Bermain yang memerankan sebagai “guru” satu anak memerankan sebagai ibu guru dan beberapa yang lainy berperan sebagai siswa. Bermin memberikan kontribusi penting terhadap perkembangan kognitif dan sosioemosional anak (Bergen dan Fromberg. 2008; Copland an Arbeau. 2009). Berikut ini beberapa pendapat para ahli terkait pengaruh bermain terhadap perkembangan kognitif dan sosioemosional : 
  • Menurut Freud dan Erikson, bermain membantu anak untuk mengatasi rasa cemas dan konflik. Karena dalam bermain anak akan merasa lega dan terbebas dari ketegangan.  
  • Menurut Piaget dan Vygotsky, bermain sebagai pekerjaan anak. Melalui bermain, kognitif anak didorong untuk berkembang. Dalam bermain anak dapat mempraktekan kemampuannya dan dia mendapatkan keterampilan dalam kondisi yang rileks dan menyenangkan. Bahkan Vygotsky pertimbangkan bahwa bermain dijadikan sebagai setting yang baik untuk mengembangkan kognitif anak. Vygotsky tertarik pada permainan simbolik dan imajinasi/berkhayal (make-believe), menurutnya kedua jenis bermain tersebut dapat memajukan perkembangan kognitif terutama berpikir kreatif.
  • Mennurut Daniel Berlyne, bermain sebagai sesuatu yang menarik dan menyenangkan diri, karena itu dapat mengisi daya dorong kita bereksplorasi. Daya dorong ini termasuk dalamnya yaitu rasa ingin tahu dan keinginan untuk mendapatkan informasi baru atau sesuatu yang tidak biasa. 
Selain perkembangan kognitif, ternyata bermain juga penting untuk perkembangan bahasa dan keterampilan berkomunikasi (Coplan and Arbeau, 2009). Kegiatan bermain yang melibatkan interaksi antara sesama teman bermain dapat memberikan keuntungan kepada anak dalam hal keterampilan literasi (skills literacy). 
Studi yang lebih mendalam pada saat sekarang ini mengenai tipe-tipe bermain (Santrock, 438-439) meliputi :bermain sensorimotor dan praktek (sensorimotor and practice play), bermain berpura-pura/simbolik (pretense/symbolic play), bermain soail (social play), bermain konstruktive (constructive play), dan permain ( games). Bermain sensorimotor dan praktek (sensorimotor and practice play) yaitu perilaku yang memungkinkan bayi untuk mendapatkan kesenangan dari latihan skema sensorimotor mereka. Perkembangan bermain sensorimotor mengikuti deskripsi Piaget dari berpikir sensorimotor. Pada usia kuartal kedua tahun pertama setelah kelahiranya seorang anak senang melakukan eksplorasi dan senang bermain dalam hal transaksi visual dan dan motorik. Usia 9 bulan anak mulai memilih obyek baru untuk dieksplorasi dan bermain. Pada usia 12 bulan anak mulai suka dengan sesuatu yang bekerja dan mengeksplorasi sebab dan akibatnya. Bermain latihan (practice play), bermain ini melibatkan perilaku yang berulang bila sedang mempelajari keterampilan baru atau bila anak telah menguasai fisik atau mentalnya dan serta mengkoordinasikan keterampilan yang diperlukan untuk bermain dan olahraga. Misalnya seperti berlari, meloncat, meluncur, berputar-putar, melempar bola atau objek lainnya. Bermain berpura-pura/simbolik (pretense/symbolic play). Bermain ini terjadi bila seorang anak mengubah lingkungan fisik kedalam sebuah symbol. Anak usia 9-30 bulan, Mereka menggunakan objek-objek dalam bermain symbol. Contoh permainan ini misalnya anak merubah sebuah pensil atau pulpen menjadi sebuah pesawat. Bermain social (social play), yaitu bermain yang melibatkan interaksi dengan teman sebaya. Kegiatan bermain ini akan semakin meningkat pada usia prasekolah. Bermain social sering membangkitkan kesenangan pada tingkat yang tinggi pada diri anak disaat ia berpartisipasi didalamnya. Bermain Konstruktif (Constructive Play), Bermain ini mengkombinasikan antara bermain sensorimotor/praktek dengan representasi simbolis dari ide-ide. Bermain konstruktif terjadi bila menggunakan kreasi aturan sendiri dari sebuah produk atau sebuah solusi. Bermain konstruktif semakin bertambah pada usia prasekolah, bentuknya yaitu bermian simbolik, sedangkan bermain motorik mulai berkurang. Permainan (games), yaitu suatu aktivitas yang didalamnya melibatkan kesengan yang diatur berdasarkan suatu aturan. Dalam games biasanya sering dilakukan dengan cara kompetisi yang melibatkan dua atau lebih individu. 

 Demikian Tulisan ini dibuat semoga bermanfaat. Terima kasih

 Sumber : 
  •  Audrey Curtis. Care and Education in Early Childhood. 2003. A Students Guids to Theoy and Practice. London and NewYork: RoutledgeFalmer. P.109 
  • Danuta Bukatko, Marvin W. Daehler. 2004. Child Development Fifth Edition. New York : Houghton Mifflin Company.pp. 535-536 
  • Jo Ann Brewer. 2007. Introduction to Early Childhood Education, Preschool through Primary Grades. Sixth Edition. United States : Pearson. P.144 
  • John W.Santrock. 2011. Child Development Sixth Edition. NewYork; McGrawHill. p, 438-439

0 comments: