This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

20 November, 2016

Pentingannya Pengembangan Pendidikan Anak Usia Dini Sebagai Investasi Masa Depan Bangsa

 Growing brains can grow economies in Asia
by. Lauren Rumble


A billion brains depend on the actions governments and partners take now. The world’s best scientists have recently confirmed that greater investments are needed to promote children’s “cognitive capital”. Cognitive capital refers to the economic benefits resulting from investing in the evolving brains of children. 

Nobel Laureate James Heckman says that early investments yield the greatest returns: a dollar spent during prenatal and early childhood yields 7 percent to 10 percent more than investments at older ages. During the first years of life, one thousand brain cells connect every second. 

These connections define a child’s capacity to learn and regulate impulses and emotions. They influence the ability to solve problems and relate to others. To capitalize on these investments we need to secure nutrition, healthcare as well as safe and loving families for all children. 

This requires ensuring universal access to education, healthcare, sanitation and nutrition as well as freedom from poverty and fear for every child. 

The reverse is also true. Adverse conditions are harmful to brain development and cognitive performance. Chronic neglect — such as that experienced by children in institutional care — has been shown to be highly disruptive to the brain architecture. This places lifelong limits on the development of skills that are necessary to succeed in school and adulthood. 

Last week, with the support of UNICEF, 29 governments from across the region gathered in Kuala Lumpur to share efforts to promote children’s cognitive capital. Indonesia was invited to share its experience in implementing the world’s largest national health insurance scheme (JKN). Launched in 2014, the JKN already covers nearly two thirds of the country’s 255 million people. 

As described by deputy minister Subandi of the National Development Planning Agency (Bappenas), the head of the delegation, Indonesia’s goal is to cover the entire population by 2019, which would help to reduce child mortality, a critical target of the Sustainable Development Goals (SDG). 

Still, there are challenges. Roughly 90 million people are not yet enrolled, mostly from the informal sector. This includes some of the country’s most vulnerable children. At 1.5 percent of GDP and just 5 percent of the national budget, Indonesia spends less on health than its neighbors. Out-of-pocket spending is still too high, creating financial hardship for families.

Furthermore, chronic disease care for the elderly has led to billion dollar deficits in the system. Additional resources and prioritizing investments in children will both be essential for maximizing returns in cognitive capital.

The meeting urged governments in the region to accelerate efforts to invest in universal health care and social protection for all children. To improve service coverage and reduce costs to families, countries should allocate at least 3 to 5 percent of their GDP to public health spending.

Social protection efforts should be unconditionally linked to social service access. High level leadership must also be mobilized to prevent violence before it starts. Laws and policies must be enforced to end all forms of violence, and services must be made available to all victims.

Biology is not destiny. Policymakers in the region face vital choices for future economic growth and prosperity of their countries. Investments in children, particularly in the earliest years, generate long-term intergenerational effects on development and yield dividends that can finally eradicate inequality and deprivation. 

With nearly half of the world’s children living in Asia and the Pacific, consensus amongst policymakers in this region to act now for children will make all the difference.

13 August, 2016

Full Day School

Full Day School
by. Icam Sutisna


Pada kesempatan kali ini saya akan berusaha menulis tentang isu hangat yang sedang diperbincangkan dimasyarakat mengenai sekolah sehari penuh (full day school). Untuk mempersingkat penulisan, istilah sekolah sehari penuh (full day school) saya singkat menjadi FDS. Munculnya ide FDS ini bermula dari idenya Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang baru diangkat oleh Presiden Jokowi sebagai pengganti Anis baswedan yaitu Mundjir Efendy. Munculnya ide FDS yang dikemukan menteri tersebut tentu tidak berdiri sendiri, artinya ide tersebut Ia kemukakan dalam rangka mendukung program Nawacita yang selama ini diusung oleh presiden Jokowi. Setidaknya itu yang saya tangkap dari berbagai informasi yang beredar di media berita yang ada sampai saat ini. Ide FDS ini diharapakan dapat mendukung program Nawacita melalui media Pendidikan dengan harapan dapat merubah atau membentuk karakater anak bangsa menjadi lebih kokoh berdasarkan nilai-nilai budaya yang ada di masyarakat Indonesia.

Namun sayang baru saja ide tersebut diutarakan ke khalayak sudah menimbulkan polemik didalam masyarakat. Saya mengamati ada tiga kelompok masyarakat yang terlibat polemik dari gagasan FDS ini, yaitu: Pertama kelompok yang tidak setuju. Kalau saya perhatikan kelompok ini cukup banyak suaranya, mereka ini datang dari berbagai lapisan masyarakat. Banyak artikel yang mereka tulis diberbagai media berita online untuk menyatkan ketidak setujuannya atas ide FDS tersebut, dengan berbagai dasar mereka kemukakan kelemahan sistem FDS apabila diterpakan diantaranya yaitu semakin terbatasnya orang tua untuk berinteraksi secara langsung dengan anak, karena waktu anak dihabiskan disekolah. Kedua kelompok yang setuju. Pada kelompok ini saya belum menemukan artikel yang membahas berbagai dasar mereka menyetujui ide FDS tersebut, namun saya hanya menemukan tulisan secara viral namun itu hanya sekedar memberikan komparasi dengan sistem pendidikan yang sudah ada, misalanya sistem pendidikan di Pesantren yang notabene menerapakan FDS atau bahkan 24 jam aktifitas siswa diatur melalui kurikulum sekolah. Ketiga kelompok yang setuju tetapi dengan syarat. Nah kelompok ini memberikan isyarakat kesetujuannya atas ide FDS tetapi dengan syarat-syarat yang harus dipenuhi, misalnya fasilitas pendidikan yang harus diperbaiki, anggaran pendidikan kesekolah perlu diperhatikan, gaji guru juga perlu diperhatikan. Untuk sebagian kalangan kelompok ketiga ini menyebutukan pendidikan sudah seperti adanya transaksional.

Ketiga kelompok masyarakat yang saya kemukakan diatas terkait tanggapanya terhadap ide FDS, menurut saya hal yang wajar karena setiap masing-masing individu mempunyai cara berpikir dan cara pandang yang berbeda-beda sesuai dengan kadar pengalamanya. Bagi yang kontra tentu bagi dia ide FDS tersebut tidak baik karena masih ada cara lain yang dapat digunakan untuk membentuk karakter anak bangsa. Bagi yang setuju ia menganggap ide tersebut bukan hal  yang baru karena pengalamanya di lingkungan yang menerapakan sistem FDS selama ini tidak ada permasalahan.

Lalu bagaimana pendapat saya tentang FDS pro atau kontra? pada kesempatan ini saya tidak akan masuk wilayah pro atau kontra terhadap ide tersebut. Menurut saya bukan hal yang subtantif mendukung atau tidak ide FDS. Soalnya semua orang akan berpandangan yang beragam tentang hal tersebut dengan alasan seperti yang saya kemukakan diatas. Menurut saya yang terpenting harus dilihat adalah ide dasar munculnya gagasan tersebut, berdasarkan informasi yang saya ketahui dari berbagai media ide tersebut muncul untuk memujudkan Nawacita yang diusung Presiden Jokowi. Merubah dan membentuk karakter anak bangsa itu orientasinya.

Pembentukan karakter bangsa melalui penanaman nilai-nilai terhadap anak disekolah (bersambung........)





21 June, 2016

Berdoa Kepada Allah Meminta Petunjuk

Berdoa Kepada Allah Meminta Petunjuk
Oleh : Kongkoh

Pada kesempatan bulan ramadhan yang penuh berkah ini izinkan saya menulis satu judul yaitu berdoa kepada Allah meminta petunjuk. Mungkin sering diantara kita termasuk saya kalau ada masalah dalam kehidupan ini sering berdoa kepada Allah meminta petujuk jalan keluar dari permasalah yang dihadapi, dan memang Allah  memerintakah kepada umat-Nya agar berdoa kepada-Nya dalam keadaan susah maupun lapang. Setiap doa yang kita panjatkan tentunya berharap Allah mengabulkannya, tetapi dalam realitas tidak semua doa yang kita panjatkan termasuk diantaranya meminta petunjuk dikabulkan oleh Allah. Banyak pendapat orang-orang yang berilmu mengemukakan kenapa doa itu tidak dikabulkan, namun dalam kesempatan ini bukan masalah doa tidak dikabulkan yang akan saya paparkan, tetapi yang akan saya paparkan yaitu kata petunjuk yang sering kita gunakan ketika berdoa. Membaca kata "petunjuk" saya jadi teringat satu ayat didalam  Al-quran surat Al-baqarah, ada satu ayat dalam surat tersebut yang mendorong saya berpikir agak kritis terhadap ayat tersebut. Ayat yang dimaksud saya yaitu ayat 2 dalam surat Al-Baqarah. Berikut ini petikannya

Dalam ayat tersebut sudah jelas disebutkan bahwa Al-quran ini sebagai petunjuk bagi orang yang bertaqwa. Sebagai muslim tentunya kita berusaha terus agar menjadi manusia yang bertaqwa termasuk salah satunya ibadah puasa yang kita jalanai sekarang ini yang mengarahkan kita agar menjadi insan yang bertaqwa. Predikat taqwa inilah yang akan menentukan baik dan buruknya manusia dihadapan Tuhannya. Kembali lagi pada kata "petunjuk" yang sering sekali kita ucapkan dalam berdoa. Menurut pemahaman saya berlandaskan pada ayat 2 dalam surat Al-baqarah tersebut diatas, pada dasarnya ketika kita berdoa, misal "Ya Allah berikanlah hamba petunjuk jalan keluar dari semua permasalahan yang menimpa hamba ini dst...." Allah sudah menjawab setiap permasalahan yang ada pada manusia secara langsung melalui firmannya yang ada dalam Alquran. Yang menjadi permasalahan menurut saya yaitu kita tidak mampu memahami isi kandungan yang ada dalam Alquran tersebut, kita tidak mau membacanya, kita tidak mau mempelajarinya dan lainnya sebagainya sehingga kita setiap mengahadapi permasalahan hidup langsung berdoa kepada Allah meminta petunjuk-Nya (bukan tidak boleh), padahal petunjuk tersebut sudah ada yaitu didalam Alquran. Bahkan yang lebih parah lagi ketika doa-doa kita tidak dikabulkan muncul dalam hati prasangka buruk terhadap Allah, semoga kita tidak termasuk golongan seperti itu. Lalu bagaimana kita mendapatkan petunjuk dari Alquran sedangkan diri kita tidak memiliki kemampuan memahami secara keseluruhan isi Alquran? menurut saya disinilah peran Ulama (orang yang paham Alquran) untuk membantu mencarikan petunjuk tentang permasalahan yang kita hadapi berdasarkan firman-firman Allah yang ada didalam Alquran. Dibutuhakn ulama yang memang betul-betul mumpuni untuk mencarikan setiap solusi yang diberikan Alquran dalam mengatasi setiap permasalahan yang sedang dihadapi setiap manusia. Ini tentu jadi tantang untuk para ulama untuk menyampaikan informasi mengenai firman-firman Allah yang tertuang dalam Alquran, dan kita sebagai umat yang bertaqwa seharusnya ketika ulama menyampaikan petunjuk-petunjuk  dari firman Allah yang secara tegas maka sudah selayaknyalah kita mengikuti setiap petunjuk yang disampaikan Allah melalui firman-firmannya di dalam Alquran.
Ayo mulai sekarang kita baca, pelajari Alquran yang notabene petunjuk bagi kita insan yang bertaqwa. Untuk mempelajari Alquran tentu kita harus dibimbing oleh para ulama agar kita tidak keliru dalam memahami setiap firman Allah.
Diakhir tulisan ini saya ingin berbagi sedikit cerita dari pengalaman saya. "akhir-akhir ini hati saya selalu gelisah, pikiran gak fokus. Tentu hal ini sangat mengganggu saya dalam bekerja. Saya coba intropeksi diri, apa yang menyebabkan hati saya gelisah, gak tenang dan pikiran gak fokus. Lalu saya putuskan untuk mengikuti semua keinginan hati saya, tetapi sesaat ya itu teratasi namun setelah itu kondisi kembali seperti semula. Pada akhirnya saya kembali kepada Alquran untuk mencari solusi dari permasalahan ini dan Alhamdulillah saya menemukan satu ayat yang menurut pandangan saya ini sebagai solusi. Berikut kutipan ayatnya

 saya coba amalkan ayat ini dengan selalu mengingat Allah melalui Dzikir. Alhamdulillah kondisi hati saya membaik. 
Demikian sekilas cerita saya, ini juga sekaligus menutup tulisan ini semoga bermanfaat bagi diri saya sendiri dan mudah-mudahan untuk yang lainnya juga. Terima kasih.