07 July, 2015

Sistem Manajemen Perilaku Anak-Anak di Sekolah

Sistem Manajemen Perilaku Anak-Anak di Sekolah
by. kongkoh


Beragam cara dan gaya yang dilakukan sekolah untuk mengkontrol perilaku siswa, mulai dari yang kontrol disiplinya ketat sampai yang longgar. Mungkin sah-sah saja sekolah menggunakan kontrol perilaku yang beragam tentunya masing-masing sekolah memiliki dasar yang kuat untuk menggunakan suatu sistem kontrol yang dianggap mereka efektif untuk mengendalikan perilaku siswa disekolahnya. Pada tulisan ini saya tidak akan memberikan pandangan mengenai masing-masing sistem kontrol perilaku disekolah. Dalam tulisan ini seperti biasa saya hanya menyajikan model-model sistem manajemen perilaku yang bisa ada disekolah atau bahkan mungkin sesuatu yang baru, atau bisa juga model yang jenis kegiatanya sering dilakukan tetapi tidak tahu model apa yang selama ini dilakukannya. mudah-mudahan dalam tulisan ini bisa memberikan penjelasan perihal model sistem manajemen perilaku yang terdapat disekolah. Ada empat model sistem manajemen perilaku yang akan dipaparkan dalam tulisan ini yaitu, Assertive discipline, the Glasser model, the Ginott model dan the Dreikurs model.
Assertive discipline (disiplin yang tegas). Model ini didesain oleh Lee Canter (1976). Model disiplin yang tegas (Assertive discipline) adalah suatu sistem yang mana aturan perilaku diruang kelas ditetapkan oleh guru dan ditempatkan didalam ruang kelas. Konsekuensi dari siswa yang melanggar aturan yang sudah tertera didalam kelas maka hukumannya juga akan dituliskan dipapan tulis yang ada didalam kelas. Misalnya ada siswa yang melanggar aturan berbicara didalam kelas maka namanya akan ditulis dipapan tulis. atau juga bisa diberikan tanda setelah namanya. Kalau disamping namanya sudah terdapat 2 (dua) tanda maka siswa tersebut akan ditangani oleh kepala sekolah atau bisa juga memanggil orang tuanya. Terlepas dari pro dan kontra mengenai model ini namun menurut Canter bahwa dengan penegakkan disiplin yang tegas guru dapat lebih efektif dalam menyelesaikan mengelola permasalahan didalam kelas. Jika ingin mengetahui lebih dalam tentang model ini silahkan baca bukunya Lee Canter Assertive Discipline: Positive Behavior Management for Today's Classroom.
Model Glasser. Model ini diambil dari namanya sendiri yaitu Glasser (1997). Model ini didasarkan pada penyediaan pilihan yang baik untuk siswa. Glesser percaya memberikan piliah-pilihan yang baik kepada siswa akan menghasilkan perilaku yang baik juga dan memberikan pilihan yang buruk akan mengahasilkan perilaku yang buruk. Menurut Glesser bahwa perliaku itu muncul karena dia berusaha untuk memenuhi kebutuhannya, kalau kebutuhan yang ada pada diri siswa ataupun guru dibatasi karena alasan disiplin itu hanya akan menyebabakan siswa maupun guru akan merasa frustrasi untuk memenuhi kebutuhannya. Glesser mengidentifikasi kebutuhan penting bagi para siswa yaitu kebutuhan kekuasaan, kebebasan, dan kesenangan. Lebih lengkapnya silahkan teman-teman baca bukunya Glasser Choice Theory: A New Psychology of Personal Freedom
Model Ginott. Model ini dikembangkan oleh Ginott (1972). didasarkan pada menyeiapkan iklim atau suasana kelas yang kondusif untuk disiplin yang baik melalui komunikasi efektif antara guru dan siswa. Ginot percaya bahwa displin itu merupakan suatu proses yang berkelanjutan yang dapat dicapai dengan seiring berjalannya waktu. Prinsip dari model ini adalah pesan korektif yang disampaikan ke siswa diarahkan pada masalahnya bukan pada siswanya. Ginot menggunakan istilah "komunikasi yang selaras" (congruent communication) untuk menjelaskan respon-respon yang selaras dengan persaan anak-anak. Dia juga mendukung adanya kerjasama bukan memberikan tuntutan. Dalam penerapannya model ini tidak memberikan label tertentu pada diri anak tetapi yang dikedepankan yaitu  komunikasi dengan anak-anak untuk menyelesaikan masalah yang dihadapainya. 
Model Dreikurs. Model ini dikembangkan oleh Dinkmeyer dan Dreikurs (2000). Model ini penekannya pada konskekuensi logis. Dreikurs mendefinisikan disiplin seperti mengajari siswa untuk memberikan batasan pada diri mereka sendiri. Dreikurs percaya bahwa semua siswa ingin memiliki dan perilaku mereka merupakan upaya untuk mencapai rasa memiliki. Jika guru menemukan perilaku yang bermasalah pada diri siswa maka Dreikurs merekomendasikan  guru menujuk siswa yang melakukan hal yang keliru untuk meneria konsekuensi logis atas apa yang dilakukannya. Konsekuensi logis tidak sama dengan hukuman (punishment). Suatu contoh misalnya jika siswa membuang sampah tidak pada tempatnya maka guru menujuk siswa tersebut untuk mengambil sampai yang telah dibuangnya untuk dimasukan ke tempat sampah.

Demikan tulisan singat mengenai manajemen perilaku anak-anak disekolah. Semoga tulisan ini bisa memberikan informasi yang bermanfaat. 






Sumber :
Jo Ann Brewer.2007. Introduction to Early Childhood Education: Preschool Through Primary Grades (6th Edition). United States: pearson. pp. 192-196




Daftar Buku yang Berhubungan Dengan Topik diatas :


















0 comments: